Inilah Indikator Forex Untuk Scalping Paling populer Saat ini
Inilah Indikator Forex Untuk Scalping Paling populer Saat ini

Inilah Indikator Forex Untuk Scalping Paling populer Saat ini

364 views

Forex.spektekno.com – Para trader pengguna teknik scalping selalu berusaha mendapatkan profit dari pergerakan harga kecil-kecilan di pasar yang selalu terjadi sepanjang hari. Metode trading dan indikator forex untuk scalping pun khas. Analisa fundamental bermacam-macam dan berita ini itu jarang berpengaruh bagi scalper.

Karenanya, scalper berpengalaman biasanya sudah memiliki sistem-nya sendiri yang ampuh dan bisa diandalkan, terdiri dari indikator-indikator teknikal dengan setting default maupun telah dikustomisasi.

Nah, berikut ini beberapa indikator forex untuk scalping yang banyak digunakan, dan bisa dinilai sebagai beberapa “alat” terbaik guna menyusun sistem trading Anda.

1. Moving Average

Sebagai salah satu indikator paling simpel dan tersedia di semua platform trading, Moving Average merupakan indi favorit bagi banyak scalper. Penempatan dan penggunaannya pun sangat mudah bagi para pemula. Trader cukup menentukan timeframe untuk bertrading, menaruh kombinasi beberapa garis Moving Averages, menguji kehandalannya, lalu dioperasikan.

Master Trader Alan Farley dalam sebuah kolom di Investopedia menyarankan kombinasi SMA 5-8-13 pada chart 2 menit untuk mengidentifikasi tren yang cukup kuat untuk buy maupun sell, sekaligus meninjau kapan tren kira-kira akan berbalik arah.

Pasang Moving Averages pada chart, Anda akan melihat garis-garis SMA naik-turun. Saat tren masih kuat, ia akan menempel pada SMA 5 atau SMA 8, sedangkan jika mendekati SMA 13 maka artinya momentum sudah memudar dan reversal akan terjadi (waktunya close position).

Berikutnya, tunggu hingga garis-garis itu menyatu kembali sebelum buka posisi lagi. Pakai salah satu rumus klasik Moving Averages: Kalau MA yang lebih rendah melintas MA tinggi ke arah atas, open buy; sedangkan kalau MA yang lebih rendah melintas MA tinggi ke arah bawah, maka open sell.

Banyak lagi kombinasi Moving Averages lainnya. Ada yang “mengawinkan” SMA-60 dengan Parabolic SAR setting default, atau trio EMA-12, EMA-26, dan SMA-55. Dan lain sebagainya. Kekurangan dari penggunaan MA adalah kemungkinan fake signal yang cukup tinggi, sehingga ada baiknya untuk selalu siap ancang-ancang exit kalau ternyata harga bergerak ke arah yang salah, atau melengkapinya dengan indikator lain sebagai konfirmator.

READ:  Mengenal Reserve Bank of Australia (RBA)

2. Bollinger Bands

Bollinger Bands di timeframe rendah juga populer sebagai indikator forex untuk scalping. Cukup terapkan Bollinger Bands dengan period 12 dan Deviation 2 (default) pada timeframe 5 menit, lalu jalankan. Jika harga menyentuh lower band, maka buy; kemudian kalau harga mencapai upper band, maka sell. Pasang celah stop loss dan TP yang tipis-tipis saja, antara SL:TP = 10:5 pip.

Namun, tak ada sistem tanpa kelemahan, termasuk indikator Bollinger Bands. Indikator forex yang satu ini hanya akan efektif di pasar ranging/sideways, dan bisa membawa petaka kalau dipakai ketika harga trending. Masalahnya, Bollinger Bands seringkali gagal mendeteksi penembusan salah satu band, padahal itu bisa dengan mudah membuat posisi kita kena SL karena level SL yang rendah.

3. Stochastic

Penggunaan Stochastic sebagai indikator forex untuks scalping agak berbeda dengan Moving Averages atau Bollinger Bands. Kebanyakan trader menggunakan Stochastic bukan sendirian (indikator tunggal), melainkan sebagai pelengkap dalam satu sistem. Jadi, Anda bisa jadi sering melihat rekomendasi sistem dimana Stochastic dikombinasikan dengan Moving Averages, atau Bollinger Bands, dan lain-lain.

Salah satu tip scalping sembari mengikuti tren dari DailyFX adalah dengan mengkombinasikan Stochastic dengan SMA-200. SMA-200 sering dianggap sebagai garis demarkasi yang membatasi antara pasar bullish (harga berada di atas garis) dan pasar bearish (harga berada di bawah garis).

Jadi, pasang SMA-200 pada timeframe 5 menit, lalu terapkan juga Slow Stochastic (5,3,3). Umpama pasar sedang bullish, maka incar sinyal buy dari crossover Stochastic untuk buka posisi. Sebaliknya, jika pasar bearish, maka incar sinyal sell. Tentu saja, Anda perlu pilih-pilih pair mata uang mana yang nampak bergerak cukup aktif dan menggiurkan untuk di-scalping dengan cara ini.

Pengertian Dan Contoh Strategi Martingale Dalam Forex

Banyak orang menilai strategi Martingale adalah bom waktu yang berdetak. Apakah benar bahwa cara ini efektif untuk digunakan dalam perdagangan forex? Atau seperti bom waktu yang bisa merugikan seorang pedagang?

READ:  Cara Trading Forex Autopilot Modal Kecil

Definisi Martingale

Martingale adalah strategi perdagangan berdasarkan teori probabilitas yang dikembangkan oleh Paul Pierre Levy, Joseph Leo Doob, serta beberapa matematikawan lainnya dari salah satu gaya Populer Populer Populer Populer populer di Perancis pada abad ke-18.

Gaya perjudian ini dilakukan dengan menggandakan taruhan setiap kali menderita kekalahan, sehingga dapat langsung menutup semua kerugian dan mendapatkan keuntungan bahkan kemudian, hanya memiliki satu kemenangan setelah beberapa kali kurang.

Strategi Martingale dapat diterapkan juga dalam forex trading. Aturan permainan strategi martingale, ini adalah ketika Anda membuat transaksi banyak dan kemudian harga bergerak dalam arah berlawanan sesuai dengan keinginan Anda, maka transaksi berikutnya tetap berada di posisi terbuka menggunakan banyak kali. Jadi ketika transaksi terakhir keuntungan, maka keuntungan sudah bisa menutupi semua kerugian dari transaksi sebelumnya.

Sebuah Contoh Strategi Martingale Di Forex

Secara teoritis, aplikasi Strategi Martingale dalam forex cukup sederhana. Ilustrasi nya dapat dilihat dalam contoh gambar Martingale berikut:

Awalnya, trader menjual total 1 dengan harga yang diharapkan turun, tapi ternyata setelah kenaikan harga sehingga pengalaman kehilangan sebanyak $ 10. Lebih jauh lagi, trader akan menjual $ 2, tapi harga masih terus naik dan menyebabkan kerugian $ 20.

Ketika harga mencapai tahap berikutnya, pedagang akan menjual lebih banyak sebanyak 4, tetapi harga masih meningkat dan kerugian meningkat menjadi $ 40, sehingga pedagang adalah untuk menjual 8 lot. Pada titik ini, jika harga ditolak sesuai dengan perkiraan awal dari trader, maka itu bisa menjadi keuntungan $ 80, yang efektif menutup semua kerugian yang telah berpengalaman sebelumnya, sementara pendapatan bersih menyampaikan $ 10.

Dengan demikian, strategi Martingale dapat berlangsung sebagai substitusi dari berhenti rugi dalam forex trading. Tanpa kebutuhan untuk mengevaluasi ulang analisis perdagangan sebelumnya, perdagangan pedagang “mengejar terus” gerakan harga sampai mencapai titik di mana harga membalikkan ke arah saat yang diinginkan dari awal pembukaan posisi perdagangan.

Keuntungan Dan Strategi Martingale Kurang Beruntung

Dengan menggunakan strategi Martingale, jumlah lot dibuka setelah kekalahan harus 2 kali dari sebelumnya (nomor lot selalu 1 langkah di depan kekalahan sebelumnya jadi jika Anda menang maka kekalahan yang sebelumnya dapat ditutup sekaligus untuk mendapatkan keuntungan).

READ:  Cara Backtest Robot Trading Forex (EA)

Setiap mata uang dapat berlangsung dalam tren adalah berish atau bullish yang berlangsung sangat lama. Oleh karena itu, dalam praktek, strategi Martingale membutuhkan modal besar. Jika Anda hanya memiliki dana biasa-biasa saja dan tidak mampu bertahan sampai pembalikan harga, maka Anda kemungkinan besar akan bangkrut di tengah jalan.

Untuk alasan ini banyak orang cenderung pesimis akan mungkin keuntungan yang dapat diperoleh dengan menggunakan strategi Martingale. Bahkan, salah satu motivasi dari matematikawan mempelajari teori Martingale adalah untuk membuktikan kemustahilan dari teknik yang disukai oleh penjudi.

Namun, ketika Anda akan menggunakan strategi Martingale, maka harus menghitung perlawanan modal sampai Transaksi adalah di jalan dan menerima kemungkinan dana masih dapat disimpan setelah account anda berkurang hari ke hari dan berulang kali menyuntik tambahan.

Kesimpulan

Ada banyak lagi lainnya yang bisa dimanfaatkan sebagai indikator forex untuk scalping, seperti indikator CCI. Bahkan ada Scalper yang berani trading naked, alias trading tanpa indikator, hanya dengan mengamati price action dan pola-pola candlestick. Persamaan diantara semuanya hanya satu: diterapkan pada timeframe rendah, antara 1M, 5M, dan maksimal 15M.

Apapun indikator yang digunakan dalam sistem, poin penting untuk dicermati adalah trader perlu menguji terlebih dahulu sebelum digunakan bertrading riil. Ada banyak sekali sistem scalping di luar sana, salah satu alasannya adalah karena tak setiap sistem cocok bagi semua orang. Modal, money management, dan kebiasaan trading setiap orang juga bisa mempengaruhi sukses-tidaknya scalping.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *